(024) 76402881 gizi@fk.undip.ac.id

[MITOS atau FAKTA: Benarkah nasi dingin lebih baik daripada nasi panas?]

Hai Nutrilicious!

Bertemu lagi dengan Giziklopedia di bulan Maret
Kira-kira giziklopedia akan membahas apa yaa??
Nah, kali ini Giziklopedia akan membahas tentang mitos dan fakta seputar nasi dingin vs nasi panas. Bener nggak sih nasi dingin lebih baik daripada nasi panas?
Penasaran?
Kuy disimak!

Sobat Giziklopedia lebih suka nasi yang masih panas atau nasi dingin nih? Nasi panas pastinya, ya. Nah, ada kepercayaan di kalangan masyarakat mengenai hal ini, yaitu nasi dingin lebih baik daripada nasi yang baru dimasak (nasi panas). Benar tidak ya? Benar! Nasi dingin memang lebih baik dikonsumsi daripada nasi panas. Hal ini terjadi karena proses retrogradasi pati yang terjadi selama penyimpanan atau pendinginan nasi dapat menurunkan kadar indeks glikemik pada nasi. Oleh karena itu, nasi yang dingin dapat menghasilkan respons glikemik yang lebih rendah dibandingkan dengan nasi yang baru dimasak.

Sebuah studi dari Universitas Indonesia mengungkapkan pendinginan nasi putih yang dimasak meningkatkan kandungan RS (resisten starch/resisten pati)-nya. Dalam studi klinis, konsumsi nasi putih yang dimasak didinginkan pada suhu 4°C selama 24 jam kemudian dipanaskan menghasilkan respons glikemik yang lebih rendah dibandingkan dengan konsumsi nasi putih yang baru dimasak pada porsi yang sama. Nasi putih yang dimasak didinginkan pada suhu 4°C selama 24 jam kemudian dipanaskan kembali juga diterima hampir seperti halnya nasi putih yang baru dimasak. Oleh karena itu, mengganti nasi putih yang baru dimasak menjadi nasi putih yang didinginkan pada suhu 4°C selama 24 jam kemudian dipanaskan dapat direkomendasikan untuk pasien diabetes dalam makanan sehari-hari.

Perlu dipahami, kandungan kalori dalam nasi putih panas dan dingin sama saja. Hal yang membedakan adalah kadar indeks glikemik nasi dingin lebih rendah dibanding nasi yang masih panas. Maka dari itu, penderita diabetes disarankan untuk mengkonsumsi makanan yang memiliki kadar indeks glikemik yang rendah. Akan tetapi, kita tetap harus menyeimbangkan asupan makan yang dikonsumsi. Terlalu banyak makan nasi juga dapat meningkatkan kadar glukosa dalam darah. Seimbangkan asupan gizi antara karbohidrat, protein, lemak, serat dan vitamin! So, tetap makan makanan yang bervariasi, ya!

Sumber: Sonia S, Witjaksono F, Ridwan R. Effect of Cooling of Cooked White Rice on Resistant Starch Content and Glycemic Response. Asia Pac J Clin Nutr 2015;24(4);620-625.
“One should eat to live, not live to eat” – Moliere

Bidang Penelitian, Penalaran, dan Keilmuan
Himpunan Mahasiswa Ilmu Gizi